Setelah para dewan juri yang terhormat membaca, menimbang , dan memutusken maka dalam 20 besar finalis Ratu Sejagat Raya yang diadaken di LA, Nadine wakil (tapi tidak mewakilken) daripada negara (kota kata Nadine) tercinta Endonesah dinyataken gugur….
Dan daripada itu, maka dapat berlega hatilah pihak2 yang selama ini menolak keberangkatan daripada sodari Nadine tersebut ke kontes kecantikan yang (katanya) paling bergengsi sejagat raya.
Sebenernya kalo kita lihat, dari segi fisik Nadine bisa dikataken cukup unggul bila dibandingken dengan kontestan2 lainnya, dengan postur tinggi semampai (bukannya semeter tak sampai), wajah Indo-Jerman, merupakan modal yang cukup untuk kategori ‘Beauty’ dalam ajang tersebut. Lalu pertanyaannya kenapa Putri Endonesah 2005 ini tidak mampu lolos dalam 20 besar finalis? Konon katanya Nadine sempet bertahan bertengger di puncak polling untuk beberapa lama di situs2 yang berhubungan dengan ajang itu.
Lalu apakah gagalnya Nadine dikarenakan oleh 2 kategori lain yaitu ‘Brain’ dan ‘Behaviour’? Mungkin.
Karena dalam petikan wawancara Nadine memberi jawaban2 yang terkesan teramat sangat standar sekali (untuk ukuran seorang Putri Endonesah tentunya). Bahkan negri ini disebut city (wah.. wah.. wah..) oleh Nadine. Benar kata seorang teman, si Kumbang (sebut saja begitu), temen saya ini berkata, "Mbok ya kalo ndak bisa ngomong Enggres ya make penerjemah saja!"
Loh tapi kan Nadine ini sekolahnya saja di London School apa gituh, mosok ya gak bisa ngomong basa Enggres dengan baek?
Ditanya gitu si Kumbang malah njawabi, "Loh London School ya London School, la wong konon katanya bahasa Endonesah-nya juga blepotan, wong dia sehari2 lancarnya basa Jerman."
OOOO… gitu. Ya maklum sajaa…
Semestinya kesalahan2 awal itu tidak mutlak menjadikan Nadine kalah. Lalu apa? ‘Brain’-kah? atau ‘Behaviour’-kah?
Kok bisa jadi putri Endonesah ya??? Tanya kenapa?